Kamis, 15 November 2018

Tersapu jarak waktu

Suara deru ombak iringi lamunan
Nikmati sentuhan sayupnya angin 
Berdiri ku sendiri dalam relung sepi
Berdiri ku menepi mengikis sanubari

Gerak langkah menyusuri garis pantai
Bak mengukur jarak noktah pilu
Jejak langkah menapak berantai
Menyimpan asa nan kian beradu

Ku termangu dalam hayal fana
Mengembara kelabui batas nyata
Terbuai hati terpaut rona 
Terpana dibuat alpha

Memori tersapu jarak waktu
Kian mengusik gumparan rindu
Rasa rebah di peraduan hampa
Berpendar pudar tak lagi sama


Makna dari sang penulisπŸ™„
Hal apapun yang sudah berlalu hanya menyisakan kenangan. Kenangan yang tersimpan dalam memori yang menetap dalam batas hayal. Semuanya tak lagi sama, bayangan masa lalu sebenarnya hanya sebagian kecil dari hidupmu. Jika dirasakan pun akan pudar dan tak lagi seperti sedia kala. Teruslah melangkah menggapai hal yang jauh lebih indah di hari berikutnya, karena masih banyak ada bagian hidup yang belum dijelajahi. Menengok sebentar ke belakang, tuk memastikan diri sudah melangkah jauh di depan.

*terbangun tengah malam, eh malah puisian :) 
kurang puitis apa lagi hidupku penuh dengan perumpamaan kata πŸ˜ŒπŸ˜…

Rabu, 14 November 2018

Empunya Asap

Asap mengepul
Tersayup angin
Sebatas garis dagu
Terbang dan hilang

Silau terhalang sinar
Namun tak lama
Semakin nampak
Empunya asap

Api kukira
Bukan, bukan api
Hanya corong kecil
Pengiring roda dua

Corong ku kira
Bukan, bukan corong
Ia pengendali
Tanpanya asap tak kan muncul

Derap langkah semakin jelas
Empunya datang
Insan
Tak sebatas pengendali

Pencari, penjelajah
Pecinta alam nan indah
Penikmat sentuhan embun
Bebas, lepas, tak terbatas

Pikiran dan jarak melintas
Diluar nalar dan khayal
Jauh mengembara
Sebuah dambaannya

Hanya saja
Bila gelisah datang
Terlena, berjalan jauh
Tergulung arus waktu

Hati, pikiran alpa
Satunya jalan merajut doa
Menggiring langkah pulang ke rumah
Menjemput sang belahan jiwa


Sebuah tulisan menggambarkan sebuah pertemuan. Pertemuan singkat namun seperti membaca buku dalam dirinya. Awal ku kira hanya asap, yang muncul lalu hilang perlahan. Namun, ternyata tidaklah salah. Pertemuan itu memang seperti asap yang dihasilkan oleh api dengan waktu kobar yang lebih lama. Asap itu lalu menghilang ketika api sudah saatnya untuk menjadi gumpalan arang. Tak ada yang mampu memberhentikan waktu, tak ada yang mampu menahannya walau sedetikpun. Ketika sudah saatnya hanya waktu yang mampu mengubah segalanya. Hanya waktu yang mampu memberikan ruang pertemuan dan waktu juga memberikan ruang perpisahan. Semua hanya waktu, sang waktu. 

Pelita


PELITA

Pelita hati
Bersinar memenuhi ruang hati
Secercah cahaya menerangi kalbu yang kelabu
Mengubah pilu menjadi rindu

Bukan inginku merasa hampa
Bukan hasratku memeluk lara
Angan tentu ingin bahagia
Bersama cinta membalut luka

Hari dimana aku berdiri
Mengucap kata penuh doa
Andai kutuliskan semua
Tak kan habis kau baca

Berjalan ku telusuri waktu
Bertanya ku bersama waktu
Berdoa ku bersama waktu
Bahagia ku bersama waktu

Waktu bagaikan saksi bisu
Menyimpan semua misteri
Kemungkinan yang mungkin menjadi harapan
Penantian yang mungkin berujung pergantian

Pelita kini hadir bersama waktu
Menuntunku melukis warna baru
Indah, sungguh ku menyukainya
Walau ku tahu ini bukan akhir segalanya



Senin, 30 April 2018

Cahaya Suci

Sinarmu mampu terangi gelapnya bumi
Cahaya suci anugerah Ilahi
Datang pancarkan kehangatan malam
Menemani hingga pagi menjelang

Kedatanganmu selalu dinantikan
Menjadi penerang hati setiap insan
Mengisi ruang kosong pada jiwa
Berikan ketenangan bila dipandang

Elok rupa indah menawan
Bentuk melingkar tak berujung
Pantulkan sinar sang mentari
Demi mewarnai seisi bumi

Tak satupun orang jenuh memandangmu dari kejauhan
Ditambah lagi sinar bintang bertaburan
Berdampingan ataupun mengitari
Kau terlihat istimewa dibuatnya

Tak satupun menyerupai bentukmu dikala malam
Rupamu membuat orang takjub
Bak pemanis suasana,
Bila sang kekasih menikmati pancaran sinarmu

Itulah kau
Wahai Bulan Purnama

Selasa, 24 April 2018

Menikmati Sabar

Setelah beberapa bulan ga aktif ngeblog, sekarang nyoba nulis lagi. Tentunya ide-ide muncul ditemani dengan secangkir kopi hangat, dan akhir-akhir ini lagi suka ngopi tanpa gula. Awalnya sih karena kemarin ada yang nanyain tulisanku lewat sosmed IG, yah lumayan bikin aku mikir sih 'ternyata ada juga yang menyukai dan menanti tulisanku untuk dirilis yaaa'. haha rada seneng! Lumayan nigkatin mood buat nulis.
Fyi, nulis di blog ini emang murni buah pikiran sih, jadi ga copas tulisan orang, buatnya sesuai pengalaman hidup, baik dari pengalaman diri sendiri maupun orang lain. Jadi ditelaah dulu, baru deh ditulis biar bisa berbagi sama kalian, #eaaa. Tentunya butuh kesabaran berfikir, disela-sela skripsian tetap punya niat nulis di blog. Yup, kali ini bukan puisi romantika atau semacamnya, tapi ala artikel gitu topiknya tentang Menikmati Sabar.  Selamat membaca. 😊


Selasa, 24 Oktober 2017

Amorgee's Poetry (publish in official line account)

Karya : Anak Agung Istri Dessy Sri Wangi

SEBUAH PERJALANAN

Tatkala ku menangis, menyesal
Tatkala ku marah, kecewa
Tatkala ku tertawa, bersyukur
Pergolakan rasa menggapai asa
Sungguh tak mudah

Rapuh, tertatih, bangkit perlahan
Sebuah perjalanan panjang 
Tak bisa ku ungkap satu persatu
Banyak angan yang tersimpan, dalam

Tiap ku memanggilnya
Seperti membuka luka lama
Harapan yang terkubur 
Kenangan-kenangan pahit
Bahagia dalam fana 

Semua ada, dalam memori
Memori penuh warna
Warna suka maupun duka
Beriringan, berpegangan
Bak sebuah pasangan 

Dari sanalah kita diingatkan
Supaya tidak lupa daratan
Sama seperti kehidupan dan kematian
Tak pernah terelakkan


KAMU DAN DIRIMU

Berjalan dalam langkah bimbang
Mau kemana? 
Sadarkah kau dimana?
Saat ini juga, detik ini juga

Berjalan dalam langkah semu
Sorot tatapan pilu
Diam termengu
Terbungkam, membisu

Berjalan, terus berjalan 
Seakan tak tau arah
Enggan rasanya
Kau menoleh sekitar

Bangunlah
Hentikan langkah sesaat
Kau butuh berhenti sejenak
Demi langkah lebih pasti
Sadar dan tau diri

Memang
Goncangan hati
Tak seorangpun tau
Sesal diri
Tak seorangpun tau

Terimalah
Berdamailah
Hanya kamu dan dirimu tau
Ke arah mana kau ingin melaju

Perjalanan masih panjang
Tinggalkan bimbang
Tinggalkan sesal
Tinggalkan ragu
Kau mampu

Berjalan, ke arah tujuan
Menuju noktah pengharapan


LANGKAH

Sepasang kaki mungil melangkah 
Berjalan menyusuri bukit dan lembah 
Gerak gerik melompat lincah 
Bagai anak tak kenal lelah

Sepasang kaki mungil berlari 
Menelusuri arah sinar mentari
Elok jejak bak menari
Indah nian bila dipandangi

Sepasang kaki mungil melaju
Bagai langkah kaki beradu 
Tak pernah merasa jemu 
Datang, kemudian berlalu 


PERIHAL WAKTU

Waktu sang pendamping setia rindu
Saksi bagi jarak dan rasa beradu 
Melawan senja berganti malam
Menahan hati mengupas kenangan

Waktu sang penyimpan rahasia 
Bagi insan si penikmat senja 
Tak pernah bosan, berucap semoga
Menanti pertemuan, tak tau kapan

Waktu sang pengobat luka
Benahi angan pernah jadi kecewa
Pemberi kesempatan kali kedua 
Semoga kala itu ada

Waktu sang pemberi arti
Jarakmu jadi ruang terbaik
Karena hati butuh hari 
Sendiri, nikmati sepi


RINDU BAGAI CANDU

Bukan hanya sekedar rindu
Namun candu
Tak sedetikpun dapat menghentikan rasa
Begitu adanya

Dalam dinginnya angin malam
Menikmati kenangan
Menulis harapan
Berharap cepat tiba, di sebuah penantian

Hadirmu tak pernah permisi
Merasuk dalam pikiran dan hati
Tak pernah sembunyi
Selalu menampakkan bayang diri

Bayangmu ikuti kemana ku pergi
Bahkan, memori tak pernah jemu mengingatmu
Kau boleh ambil hatiku
Namun jangan pikiranku

Ku takut, hilang kendali.


KEMBALI KE TITIK NOL

Seberapapun nikmat kau rasakan 
Seberapapun air mata kau tumpahkan 
Lika-liku hidup menghadang 
Sedih, senang, amarah, kekecewaan 
Dan penyesalan seringkali datang belakangan
Kau hanya diingatkan 
Tuk selalu menapak kaki pada bumi
Menyadari, penuh arti 
Bahwa hidup tak harus selalu mendongak 
Bak burung gagak 
Ataukah burung jalak nan elok tak terelak

Perlu diam sejenak 
Kembali ke titik nol
Melepas semua atribut fana
Menyilaukan mata terlena dibuatnya
Karena 

Dalam diam kau kan jelas mendengar 
Dalam diam kau kan jelas merasakan
Asa dalam kalbu terdalam
Tersimpan kemurnian

Sejatinya pendakian jati diri
Ada dalam diri
Saat tak lagi terbawa arus duniawi
Kau kan mampu temukan dirimu sendiri

Pertemuan Singkat

Pertemuan singkat ketika sore itu. Senja menjemput dan kau masih bersamaku. Itu awal, namun kau seperti teman lama. Bersenda gurau dan menuturkan berbagai macam kisah bak nostalgia. Padahal kita beda. Beda kisah lama, beda sudut pandang, beda latar belakang, dan beda... ah iya kepercayaan. Tapi tak menghambat kata demi kata terlontar menyatu padu menjadi kalimat yang sama-sama asik di dengar. Rasanya berbeda, tak biasanya. Iya kau orang baru yang singgah dihidupku, tetapi perlahan ku mengenalmu, perlahan juga ku seperti menaruh rindu yang suatu saat akan ku rasa. Ah tidak, hanya perasaanku saja. Bola mata saling terpaut, senyum sumringah, seperti terpukau satu sama lain. Menanti-nanti celotehan kalimat yang masih mengantri dipikiran masing-masing tuk disampaikan. Hingga berakhir pada kesamaan. Percakapan lantang yang sulit dihentikan, membuat kita sama-sama terhenti pada suatu titik. Tiada kata yang bisa bersahutan lagi karena ujungnya sama. Dan, pecah, kita tertawa. Suasana mendukung dengan suara klakson memberi koda pada pengendara lainnya. Ya, kita sedang berada di bus kota. Menuju tujuan yang sama. Kau menghentikan percakapan dengan menghirup udara melalui mulutmu yang terbuka lebar. Hm, menguap. Kau memang gemar sekali menikmati malam tiada tujuan, menghabiskan waktu yang seringkali tak beralasan. Namun sudah menjadi hal yang biasa, katamu. Mata sayu dan wajah pucat pasi yang selalu ku ingat ketika awal bertemu. Cukuran rambut dengan sedikit poni, lucunya tak tertata rapi, jika ku bilang cukuran boyband bukan, cukuran tempurung kelapa juga bukan. Kau nampak tak peduli dengan penampilan. Tapi jika disinggung ketika berbincang, kau mengerti soal itu. Huff, kau memang susah ditebak.