Selasa, 24 Oktober 2017

Amorgee's Poetry (publish in official line account)

Karya : Anak Agung Istri Dessy Sri Wangi

SEBUAH PERJALANAN

Tatkala ku menangis, menyesal
Tatkala ku marah, kecewa
Tatkala ku tertawa, bersyukur
Pergolakan rasa menggapai asa
Sungguh tak mudah

Rapuh, tertatih, bangkit perlahan
Sebuah perjalanan panjang 
Tak bisa ku ungkap satu persatu
Banyak angan yang tersimpan, dalam

Tiap ku memanggilnya
Seperti membuka luka lama
Harapan yang terkubur 
Kenangan-kenangan pahit
Bahagia dalam fana 

Semua ada, dalam memori
Memori penuh warna
Warna suka maupun duka
Beriringan, berpegangan
Bak sebuah pasangan 

Dari sanalah kita diingatkan
Supaya tidak lupa daratan
Sama seperti kehidupan dan kematian
Tak pernah terelakkan


KAMU DAN DIRIMU

Berjalan dalam langkah bimbang
Mau kemana? 
Sadarkah kau dimana?
Saat ini juga, detik ini juga

Berjalan dalam langkah semu
Sorot tatapan pilu
Diam termengu
Terbungkam, membisu

Berjalan, terus berjalan 
Seakan tak tau arah
Enggan rasanya
Kau menoleh sekitar

Bangunlah
Hentikan langkah sesaat
Kau butuh berhenti sejenak
Demi langkah lebih pasti
Sadar dan tau diri

Memang
Goncangan hati
Tak seorangpun tau
Sesal diri
Tak seorangpun tau

Terimalah
Berdamailah
Hanya kamu dan dirimu tau
Ke arah mana kau ingin melaju

Perjalanan masih panjang
Tinggalkan bimbang
Tinggalkan sesal
Tinggalkan ragu
Kau mampu

Berjalan, ke arah tujuan
Menuju noktah pengharapan


LANGKAH

Sepasang kaki mungil melangkah 
Berjalan menyusuri bukit dan lembah 
Gerak gerik melompat lincah 
Bagai anak tak kenal lelah

Sepasang kaki mungil berlari 
Menelusuri arah sinar mentari
Elok jejak bak menari
Indah nian bila dipandangi

Sepasang kaki mungil melaju
Bagai langkah kaki beradu 
Tak pernah merasa jemu 
Datang, kemudian berlalu 


PERIHAL WAKTU

Waktu sang pendamping setia rindu
Saksi bagi jarak dan rasa beradu 
Melawan senja berganti malam
Menahan hati mengupas kenangan

Waktu sang penyimpan rahasia 
Bagi insan si penikmat senja 
Tak pernah bosan, berucap semoga
Menanti pertemuan, tak tau kapan

Waktu sang pengobat luka
Benahi angan pernah jadi kecewa
Pemberi kesempatan kali kedua 
Semoga kala itu ada

Waktu sang pemberi arti
Jarakmu jadi ruang terbaik
Karena hati butuh hari 
Sendiri, nikmati sepi


RINDU BAGAI CANDU

Bukan hanya sekedar rindu
Namun candu
Tak sedetikpun dapat menghentikan rasa
Begitu adanya

Dalam dinginnya angin malam
Menikmati kenangan
Menulis harapan
Berharap cepat tiba, di sebuah penantian

Hadirmu tak pernah permisi
Merasuk dalam pikiran dan hati
Tak pernah sembunyi
Selalu menampakkan bayang diri

Bayangmu ikuti kemana ku pergi
Bahkan, memori tak pernah jemu mengingatmu
Kau boleh ambil hatiku
Namun jangan pikiranku

Ku takut, hilang kendali.


KEMBALI KE TITIK NOL

Seberapapun nikmat kau rasakan 
Seberapapun air mata kau tumpahkan 
Lika-liku hidup menghadang 
Sedih, senang, amarah, kekecewaan 
Dan penyesalan seringkali datang belakangan
Kau hanya diingatkan 
Tuk selalu menapak kaki pada bumi
Menyadari, penuh arti 
Bahwa hidup tak harus selalu mendongak 
Bak burung gagak 
Ataukah burung jalak nan elok tak terelak

Perlu diam sejenak 
Kembali ke titik nol
Melepas semua atribut fana
Menyilaukan mata terlena dibuatnya
Karena 

Dalam diam kau kan jelas mendengar 
Dalam diam kau kan jelas merasakan
Asa dalam kalbu terdalam
Tersimpan kemurnian

Sejatinya pendakian jati diri
Ada dalam diri
Saat tak lagi terbawa arus duniawi
Kau kan mampu temukan dirimu sendiri

Pertemuan Singkat

Pertemuan singkat ketika sore itu. Senja menjemput dan kau masih bersamaku. Itu awal, namun kau seperti teman lama. Bersenda gurau dan menuturkan berbagai macam kisah bak nostalgia. Padahal kita beda. Beda kisah lama, beda sudut pandang, beda latar belakang, dan beda... ah iya kepercayaan. Tapi tak menghambat kata demi kata terlontar menyatu padu menjadi kalimat yang sama-sama asik di dengar. Rasanya berbeda, tak biasanya. Iya kau orang baru yang singgah dihidupku, tetapi perlahan ku mengenalmu, perlahan juga ku seperti menaruh rindu yang suatu saat akan ku rasa. Ah tidak, hanya perasaanku saja. Bola mata saling terpaut, senyum sumringah, seperti terpukau satu sama lain. Menanti-nanti celotehan kalimat yang masih mengantri dipikiran masing-masing tuk disampaikan. Hingga berakhir pada kesamaan. Percakapan lantang yang sulit dihentikan, membuat kita sama-sama terhenti pada suatu titik. Tiada kata yang bisa bersahutan lagi karena ujungnya sama. Dan, pecah, kita tertawa. Suasana mendukung dengan suara klakson memberi koda pada pengendara lainnya. Ya, kita sedang berada di bus kota. Menuju tujuan yang sama. Kau menghentikan percakapan dengan menghirup udara melalui mulutmu yang terbuka lebar. Hm, menguap. Kau memang gemar sekali menikmati malam tiada tujuan, menghabiskan waktu yang seringkali tak beralasan. Namun sudah menjadi hal yang biasa, katamu. Mata sayu dan wajah pucat pasi yang selalu ku ingat ketika awal bertemu. Cukuran rambut dengan sedikit poni, lucunya tak tertata rapi, jika ku bilang cukuran boyband bukan, cukuran tempurung kelapa juga bukan. Kau nampak tak peduli dengan penampilan. Tapi jika disinggung ketika berbincang, kau mengerti soal itu. Huff, kau memang susah ditebak. 

Rabu, 27 September 2017

Life is Jokes

Hidup adalah . . .

Banyak sekali dapat didefinisikan sesuai dengan bagaimana cara setiap orang memandang dunia. Ada yang definisinya membahagiakan, ada juga yang memandang bahwa hidup itu berat, sebuah perjuangan, pertempuran, reinkarnasi, atau hidup merupakan sebuah kutukan, bahkan ada yang berniat segera mengakhiri hidupnya. Yah, begitulah kenyataannya. Di dunia yang begitu luas ini, setiap manusia sudah pasti memiliki perjalanan hidup yang berbeda-beda. Masalah yang dihadapi juga akan berbeda, sehingga hal tersebut akan membentuk pribadi dan pemikiran orang yang berbeda pula, bahkan anak kembar sekalipun.

Masalah. Siapa yang tidak kenal masalah? Masalah dari yang terlihat sepele sampai yang serius. Masalah bisa menjadi bukan masalah, jika tidak dianggap masalah dan  tidak merugikan orang lain. Suasana hati juga dapat dikuasai oleh masalah. Padahal kita punya pilihan untuk memikirkannya, menyelesaikannya ataukah mengabaikannya. Sebagian orang ada yang sangat peduli terhadap persoalan apapun dalam hidupnya, sebagian orangnya lagi ada yang tidak menghiraukan. Wajah yang seringkali menipu tuk meyakinkan bahwa 'aku tidak kenapa-napa' dan 'aku baik-baik saja' namun sorot mata tak bisa berbohong. Ia adalah jendela hati yang tak pernah berhianat. Namun sorot mata yang merupakan cerminan hati dapat terpancar lebih terang, ketika pikiran mulai ikut terjun memberi kebijaksanaan. Jadi, jika seperti itu pandangan kita terhadap hidup tidaklah sempit seperti sedia kala, ketika pikiran dan hati mampu bersahabat, berbuah kebajikan, dan membentuk kebijaksanaan. 
Sadarilah kita terlahir bukan hanya untuk menjadi baik dan terlepas dari masalah. Tapi, kita hidup untuk menerima kedua hal tersebut. Menerima dua hal yang bertolak memang tidak mudah, perlu proses. Seberapa lama proses tersebut, tergantung lagi pada diri setiap orang.

Lalu bagaimana caranya?
Kita butuh relax, enjoy, dan refreshing. Seperti pepatah mengatakan, "Lakukan pekerjaan yang kita sukai, sehingga kita menyukai apa yang kita lakukan." Hidupkan diri kita seutuhnya, dengan menjadi diri sendiri, tanpa membebaninya. Jangan paksakan jika memang itu memberatkan. Berani berkata tidak, jika memang bukan pilihan. Berani mengungkapkan, jika memang tak ingin dipendam. Berani memuji, jika mengagumi. Kita tak harus selalu membuat setiap orang bahagia dengan kita. Kita tak harus berperilaku sangat baik agar mendapat penilaian baik dimata orang. Kita tak harus memperlakukan orang seperti apa yang mereka lakukan entah baik ataupun buruk. Just do something that suitable with your capability, honest, and be the best version of yourself. 

Dalam hidup ini terdapat banyak hal yang indah, dapat membuat kita tersenyum dan tertawa namun seringkali kekurangan , kesedihan yang menggiring rasa galau dan kekecewaan menjadi sorotan. Padahal rasa bahagia dan sedih, kagum dan kecewa, baik dan buruk, suka dan benci, serta apapun yang berlawanan sudah pasti ada, tak perlu diagungkan salah satunya. Hanya saja kita butuh lebih santai dan menikmatinya. 

*Hmm. Diamlah sejenak* 
Karena jika masalah hidup dibahas, tiada habisnya.
*Tertawalah* you deserve to be happy.
Sometimes we just need to Have Fun with this life, because Life is JOKES.

Ini kali pertama aku posting tulisan motivasi. Aku menulis sepulang dari ngabuburit di Coffee Shop sama dua teman perempuan yang baru seminggu aku kenal. Kami menjadi teman karena latihan Paduan Suara yang akan ditampilkan saat ASEAN Regional Union of Psychological Societies (ARUPS) Congress yang kali ini Bali menjadi tuan rumahnya. Mereka adik kelasku di Psikologi Unud yang unurnya 2 & 3 tahun lebih muda dari ku. #upsberasatua Hehe. Nah, dari perbincangan kami yang topiknya ga jelas kemana, but I still got the points and so many values. Kemudian aku tuangkan di blog ini. Semoga dapat menginspirasi para pembaca ya. 

#motivationandinspiring 
#AmorgeeCoffee

Selasa, 26 September 2017

Kepingan Usang

Menyusuri jalan di kota tua tempat ku meninggalkan jejak usang. Kala itu aku meneguk kopi dengan rasa berbeda. Berbincang sampai lupa waktu. Menikmati kekesalan dan kebahagiaan disatu waktu. Ah kenangan. Memang ulahmu yang selalu membuat setiap orang merindu. Rindu akan kenangan pahit dan manis, tercampur seperti kopi saat itu.

Namun kali ini, aku tak tau lagi arah mana yang harus ku tempuh. Pencarian apa yang ku kejar. Sebuah penantian yang tak kunjung usai.
*menendang kaleng minuman* Huh. Jenuh ku rasa! Kemari seperti berkelana sendiri. Setiap langkah kaki seakan menjemput memori-memori. Dimanakah memori yang sengaja ku tinggalkan saat itu. Rasa takut dan harapan pun kian melebur. Menggetarkan hati meresahkan jiwa. Kaki terus melangkah, namun hati menarik diri bak mengajak berdiam diri, getir jika memori itu hilang.

Lampu jalan berwarna kuning menghiasi kota tua. Bayanganku seakan mengingatkan bahwa memori itu masih ada, bersamaku. Mengamati setiap gerak langkah dan pikiranku. Ia ada namun tak menyampaikan sepatah kata. Hanya menjemput rindu. Masihkah ku menyimpan wadah tuk menyimpannya? *membatin* Ah sudahlah, ku sudah lupa dimana terakhir kali ku menaruhnya. Mungkin telah menjadi Kepingan Usang.

#AmorgeeCoffee

Senin, 25 September 2017

Rindu



Rindu...

Ah kau biasa sekali datang secara tiba-tiba! *membatin*


Berbincang mengenai rindu, sudah pasti setiap orang pernah merasakannya. Ia mampu hadir ditengah suasana apapun yang sedang kita rasakan. Tak memandang seberapa kesibukan yang sedang kita kerjakan. Ditengah keramaian, ditengah kebahagiaan, ditengah kesunyian. Rindu mampu menghentakkan hati, merasuki pikiran, dan mengunci bibir tuk berucap tentangnya.


Rindu bagai angan yang dirasakan kembali. Memori yang ingin dijemput dan dinikmati. Goresan lama yang perlahan menghilang namun senantiasa berusaha tuk diwujudkan. Rindu tidak selalu menemukan arah dan wadah. Kadang hanya datang untuk membuat kita seakan memberhentikan waktu. Memaksa diri tuk bangkitkan luka, ingatan lama, suka, duka, cita dan cinta yang pernah singgah dihati. Namun, rindu bisa saja hadir hanya untuk merindukan sang rindu itu sendiri.


#AmorgeeCoffee