Selasa, 24 Oktober 2017

Pertemuan Singkat

Pertemuan singkat ketika sore itu. Senja menjemput dan kau masih bersamaku. Itu awal, namun kau seperti teman lama. Bersenda gurau dan menuturkan berbagai macam kisah bak nostalgia. Padahal kita beda. Beda kisah lama, beda sudut pandang, beda latar belakang, dan beda... ah iya kepercayaan. Tapi tak menghambat kata demi kata terlontar menyatu padu menjadi kalimat yang sama-sama asik di dengar. Rasanya berbeda, tak biasanya. Iya kau orang baru yang singgah dihidupku, tetapi perlahan ku mengenalmu, perlahan juga ku seperti menaruh rindu yang suatu saat akan ku rasa. Ah tidak, hanya perasaanku saja. Bola mata saling terpaut, senyum sumringah, seperti terpukau satu sama lain. Menanti-nanti celotehan kalimat yang masih mengantri dipikiran masing-masing tuk disampaikan. Hingga berakhir pada kesamaan. Percakapan lantang yang sulit dihentikan, membuat kita sama-sama terhenti pada suatu titik. Tiada kata yang bisa bersahutan lagi karena ujungnya sama. Dan, pecah, kita tertawa. Suasana mendukung dengan suara klakson memberi koda pada pengendara lainnya. Ya, kita sedang berada di bus kota. Menuju tujuan yang sama. Kau menghentikan percakapan dengan menghirup udara melalui mulutmu yang terbuka lebar. Hm, menguap. Kau memang gemar sekali menikmati malam tiada tujuan, menghabiskan waktu yang seringkali tak beralasan. Namun sudah menjadi hal yang biasa, katamu. Mata sayu dan wajah pucat pasi yang selalu ku ingat ketika awal bertemu. Cukuran rambut dengan sedikit poni, lucunya tak tertata rapi, jika ku bilang cukuran boyband bukan, cukuran tempurung kelapa juga bukan. Kau nampak tak peduli dengan penampilan. Tapi jika disinggung ketika berbincang, kau mengerti soal itu. Huff, kau memang susah ditebak. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar