Menyusuri jalan di kota tua tempat ku meninggalkan jejak usang. Kala itu aku meneguk kopi dengan rasa berbeda. Berbincang sampai lupa waktu. Menikmati kekesalan dan kebahagiaan disatu waktu. Ah kenangan. Memang ulahmu yang selalu membuat setiap orang merindu. Rindu akan kenangan pahit dan manis, tercampur seperti kopi saat itu.
Namun kali ini, aku tak tau lagi arah mana yang harus ku tempuh. Pencarian apa yang ku kejar. Sebuah penantian yang tak kunjung usai.
*menendang kaleng minuman* Huh. Jenuh ku rasa! Kemari seperti berkelana sendiri. Setiap langkah kaki seakan menjemput memori-memori. Dimanakah memori yang sengaja ku tinggalkan saat itu. Rasa takut dan harapan pun kian melebur. Menggetarkan hati meresahkan jiwa. Kaki terus melangkah, namun hati menarik diri bak mengajak berdiam diri, getir jika memori itu hilang.
Lampu jalan berwarna kuning menghiasi kota tua. Bayanganku seakan mengingatkan bahwa memori itu masih ada, bersamaku. Mengamati setiap gerak langkah dan pikiranku. Ia ada namun tak menyampaikan sepatah kata. Hanya menjemput rindu. Masihkah ku menyimpan wadah tuk menyimpannya? *membatin* Ah sudahlah, ku sudah lupa dimana terakhir kali ku menaruhnya. Mungkin telah menjadi Kepingan Usang.
#AmorgeeCoffee
Tidak ada komentar:
Posting Komentar