Asap mengepul
Tersayup angin
Sebatas garis dagu
Terbang dan hilang
Silau terhalang sinar
Namun tak lama
Semakin nampak
Empunya asap
Api kukira
Bukan, bukan api
Hanya corong kecil
Pengiring roda dua
Corong ku kira
Bukan, bukan corong
Ia pengendali
Tanpanya asap tak kan muncul
Derap langkah semakin jelas
Empunya datang
Insan
Tak sebatas pengendali
Pencari, penjelajah
Pecinta alam nan indah
Penikmat sentuhan embun
Bebas, lepas, tak terbatas
Pikiran dan jarak melintas
Diluar nalar dan khayal
Jauh mengembara
Sebuah dambaannya
Hanya saja
Bila gelisah datang
Terlena, berjalan jauh
Tergulung arus waktu
Hati, pikiran alpa
Satunya jalan merajut doa
Menggiring langkah pulang ke rumah
Menjemput sang belahan jiwa
Sebuah tulisan menggambarkan sebuah pertemuan. Pertemuan singkat namun seperti membaca buku dalam dirinya. Awal ku kira hanya asap, yang muncul lalu hilang perlahan. Namun, ternyata tidaklah salah. Pertemuan itu memang seperti asap yang dihasilkan oleh api dengan waktu kobar yang lebih lama. Asap itu lalu menghilang ketika api sudah saatnya untuk menjadi gumpalan arang. Tak ada yang mampu memberhentikan waktu, tak ada yang mampu menahannya walau sedetikpun. Ketika sudah saatnya hanya waktu yang mampu mengubah segalanya. Hanya waktu yang mampu memberikan ruang pertemuan dan waktu juga memberikan ruang perpisahan. Semua hanya waktu, sang waktu.
Tersayup angin
Sebatas garis dagu
Terbang dan hilang
Silau terhalang sinar
Namun tak lama
Semakin nampak
Empunya asap
Api kukira
Bukan, bukan api
Hanya corong kecil
Pengiring roda dua
Corong ku kira
Bukan, bukan corong
Ia pengendali
Tanpanya asap tak kan muncul
Derap langkah semakin jelas
Empunya datang
Insan
Tak sebatas pengendali
Pencari, penjelajah
Pecinta alam nan indah
Penikmat sentuhan embun
Bebas, lepas, tak terbatas
Pikiran dan jarak melintas
Diluar nalar dan khayal
Jauh mengembara
Sebuah dambaannya
Hanya saja
Bila gelisah datang
Terlena, berjalan jauh
Tergulung arus waktu
Hati, pikiran alpa
Satunya jalan merajut doa
Menggiring langkah pulang ke rumah
Menjemput sang belahan jiwa
Sebuah tulisan menggambarkan sebuah pertemuan. Pertemuan singkat namun seperti membaca buku dalam dirinya. Awal ku kira hanya asap, yang muncul lalu hilang perlahan. Namun, ternyata tidaklah salah. Pertemuan itu memang seperti asap yang dihasilkan oleh api dengan waktu kobar yang lebih lama. Asap itu lalu menghilang ketika api sudah saatnya untuk menjadi gumpalan arang. Tak ada yang mampu memberhentikan waktu, tak ada yang mampu menahannya walau sedetikpun. Ketika sudah saatnya hanya waktu yang mampu mengubah segalanya. Hanya waktu yang mampu memberikan ruang pertemuan dan waktu juga memberikan ruang perpisahan. Semua hanya waktu, sang waktu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar