Rabu, 14 November 2018

Empunya Asap

Asap mengepul
Tersayup angin
Sebatas garis dagu
Terbang dan hilang

Silau terhalang sinar
Namun tak lama
Semakin nampak
Empunya asap

Api kukira
Bukan, bukan api
Hanya corong kecil
Pengiring roda dua

Corong ku kira
Bukan, bukan corong
Ia pengendali
Tanpanya asap tak kan muncul

Derap langkah semakin jelas
Empunya datang
Insan
Tak sebatas pengendali

Pencari, penjelajah
Pecinta alam nan indah
Penikmat sentuhan embun
Bebas, lepas, tak terbatas

Pikiran dan jarak melintas
Diluar nalar dan khayal
Jauh mengembara
Sebuah dambaannya

Hanya saja
Bila gelisah datang
Terlena, berjalan jauh
Tergulung arus waktu

Hati, pikiran alpa
Satunya jalan merajut doa
Menggiring langkah pulang ke rumah
Menjemput sang belahan jiwa


Sebuah tulisan menggambarkan sebuah pertemuan. Pertemuan singkat namun seperti membaca buku dalam dirinya. Awal ku kira hanya asap, yang muncul lalu hilang perlahan. Namun, ternyata tidaklah salah. Pertemuan itu memang seperti asap yang dihasilkan oleh api dengan waktu kobar yang lebih lama. Asap itu lalu menghilang ketika api sudah saatnya untuk menjadi gumpalan arang. Tak ada yang mampu memberhentikan waktu, tak ada yang mampu menahannya walau sedetikpun. Ketika sudah saatnya hanya waktu yang mampu mengubah segalanya. Hanya waktu yang mampu memberikan ruang pertemuan dan waktu juga memberikan ruang perpisahan. Semua hanya waktu, sang waktu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar