itulah cerita cinta dari segelas racikan kopi ku
selamat malam menjelang pagi π
haha, yes this time is better to make a creativity words, haha i mean that poetryyy. memang ketika menjelang pagi, bukannya diriku insom gabisa tidur terus mikirin yang engga2, tapi aku malah ngerasa productive untuk ngejalanin hobi ku untuk nulis puisi dan inspirasi untuk make tones of poetry be the lyrics of the song!! yhaaa karena someday beberapa puisi akan ku publish menjadi laguuu!! can't wait? yep yep ditunggu saja π pas udah lowong waktunya ya abis sidang skripsi tentunya :)) mohon doa restu ππ»
ohya puisi kali ini menggambarkan tentang rasa. rasa kopi yang menggambarkan suatu perasaan dari manusia. dimana ketika orang yg sedang merasakan jatuh cinta atau menjalin cinta, tentunya banyak hal yang menjadi bumbu dari sebuah hubungan. entah itu kesedihan, kesabaran, kecemburuan, bahkan kemarahan. nah, jika sudah lebih dalam lagi memaknai arti cinta, sebenarnya semua dapat terjawab jika 'memang cinta'. jadi jangan tertipu dengan kata dan rayuan manis cinta dari ucapan semata, karena cinta sesungguhnya akan menunjukkan sebuah kebebasan dalam sebuah ikatan. pahamkah maksudnya? jadi dalam sebuah ikatan hubungan ada suatu komitmen untuk membuat diri masing-masing menjadi diri yang seutuhnya dengan kebebasan diri untuk menunjukkan versi diri terbaiknya lho ya! bukan penuh aturan dan batasan yang bikin kamu jadi bukan diri kamu yang seutuhnya lagi, alias enggak berkembang. better relationship is 100% you with self-love, 100% your partner and her/him self-love. if this combine, you will sharing a lot of to others and of course be complementary π
nah biasanya jika ada miss-com (komunikasi), maka perselisihan mulai muncul entah dari hal kecil sampai ke hal yang lebih besar hingga berujung perpisahan. padahal diri sendiri belum tentu paham maksud dari partner, mungkin saja diri sendiri hanya sibuk dengan persepsi/pemikiran sendiri. padahal maksudnya si 'doi' enggak seperti apa yang diri kita pikirkan. jadi butuh bangeeet kerendahan hati and geser dulu nih yang namanya 'gengsi dan ego' demi mengetahui sejelas-jelasnya! walau merasa diri benar, tetap saja kita sebaiknya mengetahui motif atau alasan real dari partner. karena kebenaran tidak mutlak lho, apa yang kita anggap benar ya belum tentu benar sepenuhnya. bagaimana jika kita merasa benar dan dia juga merasa benar? waduhhh π© gabakal nemu titiknya deh.
coba dilihat, pada bait ini
"jika mencoba menikmatinya
pasti ingin berkali-kali menyeduhnya
jika tidak, maka akan tergeletak
itulah cerita cinta dari segelas racikan kopi ku"
kadang ketika sudah menjalani hubungan, ada ungkapan "wah dia ternyata gini ya aslinya" atau "duh dia kok gini sih, berubah, gak kayak diawal" nahyooo, bener atau bener? hahahaha ya kali manusia sifatnya mutlak, ya kali manusia selama hidup muncul pribadi baik-baiknya aja. manusia itu kompleks dan unik, begitu juga pasangan kita. seberapapun kita pikir dia sempurna, sebaiknya tetap siap menerima perubahan atau kekurangan yang pada akhirnya tampak. nikmati prosesnya, tetap berusaha *saling* memperbaiki atau melengkapi.
lain halnya jika sudah mentok tidak mampu melengkapi, maka ada baiknya juga untuk tidak memaksakan kehendak, tidak memaksakan hubungan agar tetap bertahan lama untuk sebuah pencitraan atau penilaian sosial, walau diri merasa tersakiti sampai banyak berkorban yang tidak sepatutnya. wah jika begini mulai siaga ya. menjalin hubungan adalah suatu kebutuhan saling melengkapi, saling mencintai, saling membutuhkan, saling membangkitkan, saling mendukung, saling setia. suatu kebutuhan dari kepribadian diri sendiri untuk melengkapi kepribadian partner (apakah sanguin, melankolis, plegmatis, atau koleris, disesuaikan).
ingat, setiap orang memiliki hak untuk mencintai dan dicintai. cinta adalah cinta, menyakiti adalah menyakiti, menyakiti bukanlah cinta, disakiti apalagi. di dalam cinta tidak akan pernah ada kesengajaan untuk menyakiti atau merasa sakit. baca : kesengajaan. hanya saja kesalahan yang khilaf muncul dan bisa dihitung jumlahnya. selain itu, maka bukanlah cinta yang murni.